PERSIAPAN IBADAH
- Pelayan mempersiapkan diri dan berdoa bersama.
- Civitas akademika mengambil saat teduh dan mempersiapkan diri untuk beribadah kepada Tuhan.
- Pembakaran lilin Minggu Sengsara II (Memasuki Minggu Sengsara II ini kita diajak untuk tak hanya menghayati kasih Allah yang amat besar hingga rela mengorban diri-Nya bagi dunia, melainkan kita juga diundang untuk memiliki laku hidup yang turut mengalirkan kasih Allah kepada sesama)
PANGGILAN BERIBADAH
(diiringi dengan instrumen musik rohani yang lembut)
P : Saudara-saudari yang terkasih di dalam Kristus, terpujilah Tuhan yang menganugerahkan kehidupan dan kesempatan bagi kita untuk memulai semester yang baru di awal tahun 2026. Dialah Allah sumber hikmat dan penuntun setiap langkah kita. Di tengah harapan, rencana, dan pergumulan yang kita bawa, Tuhan tetap setia. Ia yang memelihara kita kemarin adalah Allah yang memegang hari ini dan menuntun masa depan kita. Tanpa Dia, usaha kita sia-sia; bersama Dia, setiap karya menjadi berarti. Oleh karena itu, marilah kita satukan hati dan pikiran, merendahkan diri di hadapan Nya. Kita datang bukan hanya sebagai insan akademik, tetapi sebagai umat yang dikasihi-Nya. Mari kita menyembah Dia, memohon hikmat untuk belajar dan mengajar, kekuatan untuk berkarya, serta hati yang penuh kasih untuk melayani sesama. Marilah, kita memuliakan Tuhan dan memulai semester ini dalam penyertaan-Nya.
(Jemaat berdiri)
♫ NKB 3:1,3 “TERPUJILAH ALLAH” ♫
Terpujilah Allah, hikmat-Nya besar,
begitu kasih-Nya ‘tuk dunia cemar,
sehingga dib’rilah Putra-Nya Kudus
mengangkat manusia serta menebus.Ref.:
Pujilah, pujilah! Buatlah dunia bergemar,
bergemar mendengar suara-Nya.
Dapatkanlah Allah demi Putra-Nya,
b’ri puji pada-Nya sebab hikmat-Nya.Tiada terukur besar hikmat-Nya;
penuhlah hatiku sebab Anak-Nya.
Dan amatlah k’lak hati kita senang,
melihat Sang Kristus di sorga cerlang.Ref.:
VOTUM DAN SALAM
P : Ibadah Keluarga Besar Civitas Akademika Unkriswina saat ini ditahbiskan dalam pengakuan bahwa pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang memelihara kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya, dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Kasih karunia dari Allah Tritunggal menyertai kita sekalian.
P&J: Amin.
(Jemaat duduk)
LITANI CINTAILAH SESAMAMU SEPERTI DIRIMU SENDIRI
(diiringi dengan instrumen musik rohani yang lembut)
P : Ya Tuhan Yang Maha Kasih, Engkau mengasihi kami bukan dengan kata-kata kosong, melainkan dengan tindakan yang nyata. Engkau datang ke dalam dunia, menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Engkau merasakan lapar dan haus, ditolak dan dihina, dikhianati dan disalibkan. Engkau menderita dan mati demi keselamatan kami. Kasih-Mu bukan teori, bukan sekadar ajaran, melainkan pengorbanan yang utuh. Namun ya Tuhan, kami sering melupakan kasih sebesar itu. Kami menikmati anugerah-Mu, tetapi enggan meneladani-Mu. Kami menerima pengampunan, tetapi pelit memberi pengampunan. Kami bersyukur atas keselamatan, tetapi hidup tanpa mencerminkan kasih Kristus. Ampuni kami, ya Tuhan, karena kami gagal menghidupi kasih yang telah Engkau nyatakan di kayu salib.
J : (♫ Menyanyi KJ 467:1 “Tuhanku, Bila Hati Kawanku” ♫)
Tuhanku, bila hati kawanku terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku, ampunilah.
P : Ya Tuhan, Allah Yang Maha Kasih dan Maha Pengampun, di hadapan terang wajah-Mu kami berdiri tanpa topeng. Engkau mengasihi kami tanpa syarat. Engkau tidak menolak kami ketika kami jatuh. Engkau tidak mempermalukan kami ketika kami gagal. Engkau merangkul, memulihkan, dan memberi kami kesempatan baru. Namun di hadapan kasih-Mu yang begitu luas, kami melihat betapa sempitnya hati kami. Kami mengaku, ya Tuhan, kami sering hanya mengasihi mereka yang sejalan dengan kami. Kami nyaman dengan yang sepaham, tetapi curiga terhadap yang berbeda. Kami cepat menilai, lambat memahami. Kami menuntut kesempurnaan dari orang lain, padahal kami sendiri penuh kekurangan. Di ruang belajar, di ruang rapat, di kantor, di kelas, di antara sesama rekan kerja dan mahasiswa, kami tidak selalu membawa kasih-Mu. Ada kata-kata kami yang tajam dan melukai. Ada nada suara yang merendahkan. Ada bahasa tubuh yang menunjukkan penolakan. Ada sapaan yang sengaja kami tahan. Ada senyum yang kami cabut karena kebencian diam-diam. Kami mengaku, ya Tuhan, kami pernah menikmati kegagalan orang yang tidak kami sukai. Kami pernah merasa lega ketika seseorang disingkirkan. Kami pernah menyusun narasi, membangun opini, agar orang lain ikut membenci mereka yang tidak kami kehendaki. Kami menyelesaikan persoalan dengan ego, bukan dengan kasih. Kami memilih menjatuhkan, bukan membangkitkan. Kami lebih suka menghukum daripada memberi ruang untuk bertobat dan berubah. Kami menutup pintu dialog dan membiarkan prasangka tumbuh subur. Di kampus dan dalam relasi kerja, tersimpan luka yang tidak disembuhkan, dendam yang tidak diakui, kebencian yang dibungkus dengan bahasa profesional. Kami membangun tembok, bukan jembatan. Kami mengucilkan yang berbeda latar belakang, berbeda pandangan, berbeda kemampuan, berbeda status sosial. Kami lupa bahwa setiap pribadi adalah ciptaan-Mu. Kami lupa bahwa setiap orang berharga di mata-Mu. Kami lupa bahwa Engkau pun sabar terhadap kami, yang berkali-kali gagal menghidupi kasih. Ya Tuhan, tak ada yang tersembunyi di hadapan-Mu. Engkau melihat isi hati kami. Engkau mengetahui motivasi terdalam kami. Engkau bahkan mengetahui rencana-rencana yang tidak pernah kami ucapkan, niat-niat tersembunyi untuk menjatuhkan, dan kesombongan yang kami pelihara dalam diam. Ampuni kami, ya Tuhan. Ampuni kasih kami yang penuh syarat. Ampuni kesombongan yang membuat kami merasa lebih benar. Ampuni kebencian yang kami pelihara. Ampuni sikap dingin yang menjauhkan kami dari sesama. Sucikan hati kami. Lunakkan hati yang keras. Hancurkan ego yang membutakan. Pulihkan relasi yang retak. Ajarlah kami mengasihi seperti Engkau mengasihi: mengampuni tanpa mempermalukan, menegur tanpa merendahkan, menyelesaikan persoalan tanpa kebencian, memberi kesempatan bagi yang bersalah untuk berubah. Tumbuhkan dalam komunitas kami budaya kasih, bukan budaya saling menjatuhkan. Tumbuhkan keberanian untuk berdamai, kerendahan hati untuk mengaku salah, dan ketulusan untuk memulihkan. Bentuklah kami menjadi pribadi-pribadi yang menghadirkan keramahan, keadilan, dan kasih-Mu di setiap ruang belajar dan ruang kerja. Kasihanilah kami, ya Tuhan. Perbaruilah kami. Jadikan kami alat damai-Mu. Di dalam kerahiman-Mu kami berserah.
J : (♫ Menyanyi KJ 467:2 “Tuhanku, Bila Hati Kawanku” ♫)
Jikalau tuturku tak semena dan aku tolak orang berkesah,
pikiran dan tuturku bercela, ampunilah.
P : Ya Tuhan yang penuh rahmat, ketika Engkau memberi kami kesempatan baru, itu bukan karena kami layak, bukan karena kami lebih baik, melainkan semata-mata karena kasih-Mu yang tak pernah menyerah atas kami. Kasih yang masih merangkul kami saat kami jatuh. Kasih yang masih membuka pintu ketika kami menutup hati. Kasih yang memberi ruang bagi kami untuk bertumbuh dan berubah. Kini, ya Tuhan, dengan rendah hati kami mau melangkah kembali, membawa kasih-Mu itu ke dalam setiap ruang hidup kami. Di ruang kerja dan ruang belajar, di antara rekan dan sahabat, di setiap percakapan, keputusan, dan perbedaan, ajarilah kami menghadirkan kasih-Mu. Jauhkan kami dari amarah yang meledak tanpa kendali. Jauhkan kami dari dendam yang diam-diam menggerogoti hati. Jauhkan kami dari keinginan untuk menjatuhkan, dari kepuasan ketika melihat orang lain gagal, dari kebiasaan saling melukai dengan kata dan sikap. Biarlah di ruang kerja dan ruang belajar tumbuh sukacita yang tulus. Tumbuh semangat saling mendukung, bukan saling mencurigai. Tumbuh sikap saling memahami, bukan saling menghakimi. Tumbuh hati yang rela mengampuni, bukan menyimpan luka. Ya Tuhan, sebagaimana kami tidak ingin diperlakukan dengan buruk, tolonglah kami agar tidak memperlakukan orang lain dengan buruk. Sebagaimana kami tidak ingin dilukai, ajarilah kami untuk tidak melukai. Sebagaimana kami ingin dihargai, ajarilah kami untuk menghargai. Tolong kami mengasihi sesama seperti kami mengasihi diri kami sendiri, bahkan lebih lagi, seperti Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami. Ketika perbedaan muncul, berilah kami kebijaksanaan. Ketika konflik terjadi, berilah kami kerendahan hati. Ketika emosi memuncak, berilah kami penguasaan diri. Ketika ego ingin menang, ingatkan kami pada salib-Mu yang mengalah demi menyelamatkan. Jauhkanlah kami dari perpecahan. Singkirkan roh iri hati dan persaingan yang tidak sehat. Patahkan setiap benih kebencian sebelum ia bertumbuh. Biarlah cinta dan ketulusan menjadi napas dalam setiap relasi kami. Biarlah keramahan menjadi bahasa tubuh kami. Biarlah damai menjadi suasana yang terasa di tengah komunitas kami. Bentuklah kami menjadi pribadi-pribadi yang tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh menghidupinya. Dalam kelemahan kami, tolonglah kami. Dalam keterbatasan kami, kuatkanlah kami. Dalam setiap langkah kami, pimpinlah kami. Di dalam kasih-Mu kami berserah. Amin.
♫ “KASIH PASTI LEMAH LEMBUT” ♫
Kasih pasti lemah lembut
Kasih pasti memaafkan
Kasih pasti murah hati
Kasih-Mu, kasih-Mu, TuhanAjarilah kami ini saling mengasihi
Ajarilah kami ini saling mengampuni
Ajarilah kami ini kasih-Mu, ya Tuhan
Kasih-Mu, kudus, tiada batasnya
PEMBERITAAN FIRMAN TUHAN
- Doa Epiklese
- Pembacaan Alkitab: Matius 22:39
(diakhiri dengan mengatakan: “Demikianlah Firman Tuhan. Diberkatilah setiap orang yang membaca, merenungkan, dan memelihara Firman Tuhan dalam hidupnya. Haleluya.”)
- J : (♫ Menyanyi “Haleluya” ♫) Haleluya.. Haleluya.. Haleluya..
- Khotbah
- Pujian dari Angelin & Dorthika
DOA SYUKUR & SYAFAAT
PERSEMBAHAN
P : Saudara-saudari yang terkasih di dalam Kristus, Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita dan menganugerahkan kehidupan, hikmat, dan keselamatan. Persembahan yang kita bawa saat ini bukan sekadar kewajiban, melainkan ungkapan syukur dan kasih kita kepada-Nya. Apa yang kita berikan adalah tanda bahwa hati kita pun ingin belajar mengasihi, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Marilah kita memberi dengan sukacita sebagai wujud kasih yang nyata.
♫ “BETAPA HATIKU” ♫
Betapa hatiku berterima kasih Yesus
Kau mengasihiku kau memilikiku
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku jiwa dan ragaku
S’bab tak kumiliki harta kekayaaYang cukup berarti tuk ku persembahkan
Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahankuPakailah hidupku sebagai alat-Mu
Seumur hidupku.
PENGUTUSAN DAN BERKAT
(Jemaat berdiri)
P : Jemaat yang dikasihi Tuhan, kita telah berjumpa dengan Tuhan, sumber kasih dan hikmat. Kini kita diutus kembali ke ruang kelas, ruang kerja, dan ruang kehidupan kita. Hiduplah dalam kasih. Belajarlah dengan integritas. Berkaryalah dengan hati yang takut akan Tuhan. Biarlah semester ini menjadi ruang di mana kasih Kristus nyata melalui sikap dan tindakan kita. Untuk itu, arahkanlah hatimu dan terimalah berkat Tuhan. “Kiranya kasih Allah Bapa yang membentuk engkau dengan karya yang ajaib, kiranya anugerah Tuhan Yesus Kristus yang mengasihimu sampai menyerahkan diri-Nya, dan kiranya persekutuan Roh Kudus yang meneguhkan dan memulihkan hatimu, menyertai engkau sekarang dan selama-lamanya.”
J : (♫ Menyanyi “Amin” ♫) Amin.. Amin.. Amin..
♫ KJ 426:1,3 ”KITA HARUS MEMBAWA BERITA” ♫
Kita harus membawa berita
pada dunia dalam gelap
tentang kebenaran dan kasih
dan damai yang menetap,
dan damai yang menetap.Ref.:
Kar’na g’lap jadi remang pagi,
dan remang jadi siang t’rang.
Kuasa Kristus ‘kan nyatalah,
rahamani dan cemerlang.
Kita harus membawa berita:
Allah itu kasih belas.
Dib’rikan Putra tunggal-Nya,
supaya kita lepas,
supaya kita lepas.Ref.:
TIM PELAYANAN KAMPUS MENGUCAPKAN,
“SELAMAT BERKARYA DALAM CINTA TUHAN,
ALLAH YANG BAIK MENEGUHKAN KITA SELALU!”