Kuliah Umum Agribisnis Unkriswina Sumba: Peran Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Merajut Agribisnis Berkelanjutan di Sumba Timur

WhatsApp
Facebook
Twitter
Telegram

Waingapu, 2 Juni 2026 – Program Studi Agribisnis Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba menyelenggarakan kuliah umum bertema “Peran Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Merajut Agribisnis Berkelanjutan di Sumba Timur” yang berlangsung di Aula Lantai 3 Unkriswina Sumba. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Agribisnis dan menghadirkan Bapak Dr. Adi Papa Pandarangga, S.T., M.Si. (Kabid Perekonomian dan SDA Bappeda Kab. Sumba Timur) sebagai narasumber, dengan Bapak Junaedin Wadu sebagai moderator.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kaprodi Agribisnis, Ibu Dr. Anggreni Madik Linda, S.TP., M.Agb., yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya kuliah umum sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan teori akademik dengan realitas pembangunan daerah. Ia berharap mahasiswa mampu memahami tantangan dan peluang sektor agribisnis di Sumba Timur serta mengambil peran nyata dalam pembangunan daerah.

Dalam pemaparannya, BapakDr. Adi Papa Pandarangga, S.T., M.Si. mengangkat tema besar mengenai “Paradoks Tanah Humba”, yaitu kondisi ketika daerah yang memiliki potensi agraris besar justru masih menghadapi tingkat kemiskinan yang tinggi. Menurutnya, Sumba Timur memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi kesejahteraan masyarakat.

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, beliau memberikan ilustrasi sederhana tentang seorang pemuda yang menjual pisang ke pasar, tetapi ketika pulang justru membeli molen. Analogi ini menunjukkan bahwa masyarakat sering menjual bahan mentah dengan harga murah, sementara produk yang telah memiliki nilai tambah dibeli kembali dengan harga lebih tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai ekonomi yang dinikmati oleh masyarakat lokal.

Lebih lanjut, beliau memaparkan kondisi makroekonomi Sumba Timur. Dari sekitar 91.715 jiwa tenaga kerja, sekitar 71,7 persen bekerja di sektor pertanian dan peternakan. Sementara itu, tingkat inflasi tahun 2024 tercatat sebesar 1,66 persen, yang secara angka terlihat sehat. Namun demikian, inflasi tersebut masih didominasi oleh import inflation, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Adi juga menyoroti pentingnya kehadiran perguruan tinggi dalam pembangunan daerah. Menurutnya, Unkriswina Sumba memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sumba Timur. Kehadiran kampus diharapkan mampu mendorong peningkatan rata-rata tingkat pendidikan masyarakat dan melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah.

Materi kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai jebakan kemiskinan absolut yang masih dihadapi sebagian masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa pola pertanian subsisten menyebabkan petani menjual komoditas mentah dengan harga murah, kemudian membeli kembali produk olahan atau barang jadi dengan harga yang lebih tinggi. Ditambah lagi dengan berlakunya Hukum Engel, di mana sekitar 58 persen pendapatan rumah tangga digunakan untuk kebutuhan pangan, sehingga hampir tidak ada surplus yang tersisa untuk investasi. Akibatnya, produktivitas cenderung stagnan dan kemiskinan sulit diputus.

“Jika tidak ada transformasi struktural, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menghapus kemiskinan. Karena itu, perubahan harus dimulai dari cara berpikir dan cara mengelola sektor pertanian,” ungkapnya.

Sebagai solusi, beliau memperkenalkan gagasan kebangkitan petani milenial sebagai katalis pembangunan. Menurutnya, generasi muda memiliki keunggulan dalam memanfaatkan teknologi dan akses informasi digital. Di tengah tantangan perubahan zaman, petani muda diharapkan mampu menjadi agen transformasi pertanian modern.

“Hari ini kalian hidup di era digitalisasi. Kalian bisa mengakses informasi pertanian dari internet dengan begitu mudah. Ini adalah keunggulan yang harus dimanfaatkan untuk membawa perubahan,” tegasnya kepada para mahasiswa.

Bapak Adi juga menjelaskan realitas kebijakan daerah yang masih menghadapi keterbatasan ruang fiskal. Data menunjukkan bahwa sekitar 91,63 persen pendapatan daerah masih bergantung pada transfer pemerintah pusat, sementara tingkat kemandirian daerah baru mencapai 7,42 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa lebih dari sembilan dari setiap sepuluh rupiah yang beredar dalam anggaran pembangunan masih berasal dari pemerintah pusat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, beliau menawarkan empat pilar intervensi pembangunan yang terangkum dalam visi Humba Maju dan Berkelanjutan, yaitu Humba Sejahtera, Humba Cerdas, Humba Mengabdi, dan penguatan sektor-sektor produktif berbasis potensi lokal.

Khusus kepada mahasiswa Agribisnis, beliau menekankan bahwa peran sarjana agribisnis tidak hanya sebatas memahami teori, tetapi juga menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

“Adik-adik akan menjadi penerjemah bahasa akademis menjadi solusi nyata bagi petani milenial. Kalian hadir bukan hanya untuk menjawab pertanyaan yang sudah ada, tetapi untuk mencari solusi dan menemukan jawaban yang belum pernah ada,” pesannya.

Beliau juga menyoroti pentingnya pemanfaatan data dalam pembangunan pertanian. Jika dahulu petani belum memahami pentingnya data dalam pengambilan keputusan, maka saat ini data harus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Bahkan lahan-lahan yang selama ini dianggap tidak produktif dapat dipetakan dan dikembangkan menjadi aset pembangunan yang bernilai.

Mengakhiri materinya, Bapak Adi menyampaikan bahwa upaya mengurai paradoks ekonomi Sumba Timur tidak dapat diselesaikan hanya melalui subsidi benih atau program-program jangka pendek. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, petani, dan generasi muda untuk mewujudkan transformasi agribisnis yang berkelanjutan.

“Kebangkitan petani milenial, dukungan kebijakan yang tepat, serta kepakaran akademisi merupakan kunci untuk merajut masa depan agribisnis Sumba Timur menuju kemandirian dan kesejahteraan,” tutupnya.

Menutup kegiatan, moderator Bapak Junaedin Wadu, S.TP., M.Agb. menyampaikan bahwa kebijakan pemerintah memiliki pengaruh besar terhadap arah pembangunan pertanian dan kesejahteraan masyarakat. Tanpa kebijakan yang tepat, berbagai sektor dapat mengalami efek domino yang menghambat pembangunan. Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama mengambil bagian dalam memajukan sektor pertanian di Sumba Timur.

Kuliah umum ini menjadi ruang refleksi sekaligus motivasi bagi mahasiswa Agribisnis Unkriswina Sumba Sumba untuk terus mengembangkan kapasitas diri dan berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah melalui inovasi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *