PERSIAPAN IBADAH
- Pelayan mempersiapkan diri dan berdoa bersama.
- Civitas akademika mengambil saat teduh dan mempersiapkan diri untuk beribadah kepada Tuhan dengan merenungkan Minggu Sengsara Kristus yang ke -5 di tandai dengan pembakaran lilin.
PANGGILAN BERIBADAH
(diiringi dengan instrumen musik rohani yang lembut)
P : Saudara-saudari yang terkasih di dalam Kristus, terpujilah Tuhan yang telah memberi kita kehidupan, napas, dan kesempatan untuk berkumpul di hadapan-Nya. Hari ini kita datang untuk merenungkan jalan kasih yang ditempuh oleh Tuhan kita. Kita ada dalam perenungan akan kesengsaraan Kristus; jalan salib yang penuh penderitaan, tetapi mengandung keselamatan. Di tengah dunia yang sering memilih jalan mudah, Kristus memilih jalan salib. Dalam perenungan kesengsaraan Kristus, kita belajar bahwa salib bukan akhir, melainkan awal kehidupan. Pengorbanan-Nya membuka jalan pengharapan bagi kita. Mari kita mengarahkan hati kepada Tuhan, meninggalkan sejenak segala kesibukan dan kegelisahan, dan memusatkan diri pada kasih Allah yang dinyatakan melalui Yesus Kristus. Masuklah dalam hadirat-Nya dengan hormat dan syukur.
(Jemaat berdiri)
♫ PKJ 13:1,2 “KITA MASUK RUMAH-NYA” ♫
Kita masuk rumah-Nya, berkumpul menyembah kepada-Nya.
Kita masuk rumah-Nya, berkumpul menyembah kepada-Nya.
Kita masuk rumah-Nya, berkumpul menyembah Kristus,
menyembah Kristus Tuhan.Lupakanlah dirimu, arahkan hatimu kepada-Nya.
Lupakanlah dirimu, arahkan hatimu kepada-Nya.
Lupakanlah dirimu, arahkan hatimu kepada Kristus,
menyembah Kristus Tuhan.
VOTUM DAN SALAM
P : Ibadah Keluarga Besar Civitas Akademika Unkriswina saat ini ditahbiskan dalam pengakuan bahwa pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang memelihara kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya, dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Kasih karunia dari Allah Tritunggal menyertai kita sekalian.
P&J: Amin.
(Jemaat duduk)
LITANI JALAN SALIB: JALAN KEHIDUPAN
(diiringi dengan instrumen musik rohani yang lembut)
P : Ya Tuhan, Allah yang penuh kasih dan setia, Engkau adalah Allah yang memikul penderitaan kami, Engkau memanggul salib demi menyelamatkan dunia. Namun sering kali kami tidak meneladani jalan-Mu. Kami mengaku di hadapan-Mu, ya Tuhan, bahwa kami lebih sering memilih jalan yang mudah daripada jalan salib yang Engkau tunjukkan. Kami ingin mengikuti-Mu, tetapi kami takut pada pengorbanan. Kami ingin menerima berkat-Mu, tetapi kami enggan memikul tanggung jawab sebagai murid-Mu. Ampuni kami, ya Tuhan, ketika kami lebih mencintai kenyamanan daripada kebenaran. Ketika kami menyelamatkan diri sendiri tetapi kehilangan makna kehidupan yang sejati. Ketika kami mencari kehormatan dunia dan melupakan panggilan untuk setia kepada-Mu. Sering kali kami malu mengakui Engkau di tengah dunia yang penuh penilaian dan tekanan. Kami diam ketika seharusnya bersuara untuk kebenaran. Kami berpaling ketika sesama kami memikul penderitaan. Kami berjalan menjauh dari salib, padahal di sanalah Engkau memanggil kami. Ya Tuhan Yesus, Engkau berkata bahwa setiap orang yang mau mengikut Engkau harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Engkau. Namun, kami mengakui, kami sering menyangkal panggilan itu. Oleh karena itu, dengan hati yang remuk dan penuh penyesalan kami datang memohon belas kasih-Mu. Sucikanlah hati kami dari kesombongan, lepaskan kami dari ketakutan, dan pulihkan keberanian iman kami. Ajarlah kami, ya Tuhan, untuk mengerti bahwa jalan salib bukanlah jalan kehancuran, melainkan jalan kehidupan. Bahwa kehilangan demi Engkau adalah menemukan hidup yang sejati. Perbaruilah hati kami agar kami setia berjalan di jalan-Mu, memikul salib dengan iman, dan mengikuti Engkau dengan kasih dan keberanian. Dalam kerendahan hati kami berseru: kasihanilah kami, ya Tuhan. Ampunilah dosa-dosa kami dan tuntunlah kami kembali ke jalan salib yang membawa kehidupan.
J : (♫ Menyanyi NKB 83:1 “Nun di Bukit yang Jauh” ♫)
Nun di bukit yang jauh, tampak kayu salib; lambang kutuk nestapa, cela.
Salib itu tempat Tuhan Maha Kudus menebus umat manusia.
Salib itu ku junjung penuh, hingga tiba saat ajalku.
Salib itu ku rangkul teguh dan mahkota kelak milikku.
P : Ya Tuhan, Engkau melihat seluruh kehidupan kami. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Mu. Engkau mengenal hati kami, pikiran kami, bahkan pergumulan yang tidak sanggup kami ungkapkan dengan kata-kata. Namun di hadapan terang-Mu, kami mengaku dengan jujur: terkadang kami enggan memikul salib dan menyangkal diri. Kami lebih sering memilih jalan yang mudah. Kami mengaku, ya Tuhan, bahwa kami belum mampu menyangkal diri kami. Kami masih dikuasai oleh keinginan, ambisi, dan kepentingan diri. Kami sering memikirkan kenyamanan kami sendiri lebih daripada kebenaran dan kehendak-Mu. Ampuni kami, ya Tuhan, ketika kami enggan memikul salib demi kenyamanan hidup. Kami ingin hidup tanpa penderitaan, kami ingin berjalan tanpa pengorbanan, padahal Engkau telah memanggil kami untuk mengikuti-Mu dengan setia. Kami mengaku bahwa sering kali kami mencari keuntungan diri sendiri, kami menjaga nama baik kami sendiri, kami mempertahankan kehormatan kami sendiri, tetapi kami lupa bahwa Engkau memanggil kami untuk hidup dalam kerendahan hati dan ketaatan. Ya Tuhan, sering kali kami takut kehilangan sesuatu jika kami sungguh sungguh mengikuti jalan-Mu. Kami takut kehilangan kenyamanan, takut kehilangan penerimaan manusia, bahkan takut kehilangan hal-hal yang kami anggap berharga. Padahal Engkau telah mengingatkan kami bahwa apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya. Ampuni kami, ya Tuhan, ketika kami lebih mengejar dunia daripada kehidupan yang Engkau janjikan. Ampuni kami ketika kami malu mengakui Engkau dalam perkataan, sikap, dan keputusan hidup kami. Kasihanilah kami, ya Tuhan. Pulihkan hati kami yang lemah. Lembutkan hati kami yang keras. Bangkitkan kembali keberanian iman kami. Ajarlah kami untuk memahami bahwa jalan salib bukanlah jalan kehancuran, melainkan jalan kehidupan. Beri kami kerendahan hati untuk menyangkal diri, kekuatan untuk memikul salib, dan kesetiaan untuk tetap berjalan bersama-Mu. Tuntunlah kami, ya Tuhan, agar setiap langkah hidup kami tidak lagi dipimpin oleh kepentingan diri, melainkan oleh kasih dan kehendak-Mu. Di dalam belas kasih-Mu kami berserah, di dalam anugerah-Mu kami berharap, dan memohon anugerah-Mu.
J : (♫ Menyanyi NKB 83:2 “Nun di Bukit yang Jauh” ♫)
Meski salib itu dicela, dicerca, bagiku tiada taranya.
Anak Domba kudus masuk dunia gelap, disalib kar’na dosa dunia.
Salib itu ku junjung penuh, hingga tiba saat ajalku.
Salib itu ku rangkul teguh dan mahkota kelak milikku.
P : Ya Allah yang hidup, kami percaya bahwa jalan salib adalah jalan kehidupan. Namun kami juga mengaku dengan jujur di hadapan-Mu bahwa tidak selalu mudah bagi kami untuk berjalan di jalan itu. Sering kali hati kami goyah, sering kali kami lebih memilih jalan yang nyaman daripada jalan pengorbanan yang Engkau ajarkan. Oleh karena itu, ya Tuhan, mampukanlah kami selagi Engkau masih memberi kami kesempatan hidup. Tolonglah kami agar kami terus setia mengikut Engkau. Ketika kami diperhadapkan dengan berbagai kenyataan hidup—tantangan, kekecewaan, pergumulan, bahkan ketidakadilan—biarlah hati kami tetap teguh untuk berjalan bersama-Mu dan tidak meninggalkan jalan salib itu. Ya Tuhan, dalam kehidupan kami di dunia pendidikan ini, mampukanlah kami untuk setia memikul salib kami masing-masing. Bagi kami yang melayani sebagai dosen, ajarlah kami untuk menjalankan panggilan ini dengan integritas, dengan kerendahan hati, dan dengan kasih kepada sesama. Jauhkan kami dari kesombongan, dari sikap mencari kehormatan diri, dan dari keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Bagi mahasiswa, ya Tuhan, kuatkanlah mereka dalam setiap pergumulan studi, dalam tekanan hidup, dalam pergumulan keluarga dan masa depan. Tolong mereka untuk tidak menyerah, tetapi belajar memikul salib dengan kesabaran dan pengharapan. Bagi saudara-saudari kami para tenaga kependidikan, berkatilah setiap pelayanan dan kerja mereka. Biarlah setiap tugas yang mereka lakukan menjadi bagian dari kesetiaan memikul salib bersama Kristus. Ya Tuhan, di tengah kehidupan kampus dan kehidupan kami sehari-hari, ajarilah kami untuk tidak malu mengikut Engkau. Berikan kami keberanian untuk tetap berdiri di dalam kebenaran, kerendahan hati untuk mengakui kelemahan kami, dan kesetiaan untuk berjalan di jalan-Mu. Biarlah salib Kristus selalu mengingatkan kami bahwa pengorbanan tidak pernah sia-sia, bahwa kesetiaan di tengah penderitaan akan berbuah kehidupan yang sejati. Tuntunlah langkah kami, ya Tuhan. Ketika kami lemah, kuatkanlah kami. Ketika kami jatuh, bangkitkanlah kami kembali, dan ketika kami ragu, ingatkanlah kami bahwa bersama-Mu kami tidak pernah berjalan sendiri. Sebab Engkaulah Tuhan yang memanggul salib bagi kami, dan Engkau juga yang menuntun kami menuju kehidupan yang sejati. Amin.
♫ NKB 83:4 “NUN DI BUKIT YANG JAUH” ♫
Ku setia tetap ikut jalan salib, meski diriku pun dicela.
Satu saat kelak ku dibawa pergi ke tempat kemuliaan-Nya.
Salib itu ku junjung penuh, hingga tiba saat ajalku.
Salib itu ku rangkul teguh dan mahkota kelak milikku.
PEMBERITAAN FIRMAN TUHAN
- Doa Epiklese
- Pembacaan Alkitab: Markus 8:31-38
(diakhiri dengan mengatakan: “Demikianlah Firman Tuhan. Diberkatilah setiap orang yang membaca, merenungkan, dan memelihara Firman Tuhan dalam hidupnya. Haleluya.”)
- J : (♫ Menyanyi “Haleluya” ♫) Haleluya.. Haleluya.. Haleluya..
- Khotbah
- Pujian dari Sdra. Galank
DOA SYUKUR & SYAFAAT
PERSEMBAHAN
P : Saudara-saudari yang terkasih di Kristus, ketika kita membawa persembahan kita saat ini, kita diingatkan bahwa memberi kepada Tuhan juga merupakan bagian dari memikul salib. Kita belajar menyangkal keinginan diri, melepaskan sebagian dari apa yang kita miliki, dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Persembahan yang kita bawa bukan sekadar materi, tetapi tanda syukur, kasih, dan kesediaan kita untuk berjalan di jalan yang telah ditunjukkan oleh Kristus. Kiranya melalui persembahan ini kita diingatkan bahwa jalan salib memang jalan pengorbanan, tetapi sekaligus jalan yang menuntun pada kehidupan yang sejati. Tuhan yang telah mengaruniakan hidup-Nya bagi kita, memampukan kita juga untuk memberi dengan hati yang tulus dan penuh sukacita. Mari kita membawa persembahan kita kepada Tuhan.
♫ NKB 211:1-3 ”PAKAILAH WAKTU ANUG’RAH TUHANMU” ♫
Pakailah waktu anug’rah Tuhanmu,
hidupmu singkat bagaikan kembang.
Mana benda yang kekal di hidupmu?
Hanyalah kasih tak akan lekang.Ref.:
Tiada yang baka di dalam dunia,
s’gala yang indah pun akan lenyap.
Namun kasihmu demi Tuhan Yesus
sungguh bernilai dan tinggal tetap.Janganlah sia-siakan waktumu,
hibur dan tolonglah yang berkeluh.
Biarlah lampumu t’rus bercahaya,
muliakanlah Tuhan di hidupmu.Ref.:
Karya jerihmu demi Tuhan Yesus,
‘kan dihargai benar olehNya.
Kasih yang sudah ‘kau tabur di dunia,
nanti ‘kau tuai di sorga mulia.Ref.:
PENGUTUSAN DAN BERKAT
(Jemaat berdiri)
P : Jemaat yang dikasihi Tuhan, hari ini kita telah bersama-sama beribadah dan merenungkan bahwa jalan salib adalah jalan kehidupan. Jalan yang ditempuh oleh Kristus bukanlah jalan yang mudah, tetapi melalui jalan itulah Tuhan menghadirkan kasih, keselamatan, dan pengharapan bagi dunia. Ketika kita kembali menjalani kehidupan kita sebagai dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, kita juga dipanggil untuk berjalan di jalan yang sama: berani memikul salib, setia dalam kebenaran, rendah hati, dan tetap mengasihi di tengah berbagai pergumulan hidup. Pergilah dengan keyakinan bahwa Tuhan berjalan bersama kita. Dalam setiap tantangan, penderitaan, dan pergumulan hidup, ingatlah bahwa jalan salib yang kita jalani bersama Kristus selalu mengarah pada kehidupan dan kemenangan yang Tuhan sediakan. Untuk itu, arahkanlah hati kita dan kita mohon berkat Tuhan. “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah Bapa dalam persekutuan dengan Roh Kudus akan senantiasa menuntun, meneguhkan dan menyertaimu dari sekarang sampai selama-lamanya.”
J : (♫ Menyanyi “Amin” ♫) Amin.. Amin.. Amin..
♫ KJ 376:1,3 ”IKUT DIKAU SAJA TUHAN” ♫
Ikut dikau saja, Tuhan
jalan damai bagiku;
Aku s’lamat dan Sentosa
hanya oleh darah-MuRef.:
Aku ingin ikut Dikau
dan mengabdi pada-Mu:
Dalam Dikau, Jurus’lamat,
ku bahagia penuh!
Ikut dan menyangkal diri,
aku buang yang fana,
hanya turut kehendak-Mu
dan pada-Mu berserah.
Ref.:
TIM PELAYANAN KAMPUS MENGUCAPKAN,
“SELAMAT BERKARYA DALAM RAHMAT TUHAN,
ALLAH YANG BAIK MENOPANG KITA SELALU!”
