Unkriswina.ac.id

Switch to desktop Register Login

SEMINAR NASIONAL OLEH AGT, AGB, THP dan PTK - 25 - 26 Mei 2018

Peluang dan Tantangan Sektor Pertanian Berkelanjutan

25 - 26 Mei 2018

 

Keynote Speaker: Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P
Pembicara: a. Prof. Dr. Ir. Nurjahna, MS (IPB)
Keahlian di bidang standarisasi bidang perikanan, Teknologi industri Minyak Ikan, Degradasi Metabolik Hasil Perairan, Perencanaan Bisnis Perikanan, Transportasi Hasil Perikanan
b. Prof. Dr. Ir. Sony Heru Priyanto, MM (UKSW)
Keahlian: Pengembangan pertanian berbasis Kewirausahaan, Pengembangan Desa melalui sektor Pertanian c. Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc,PhD (UNDANA)
Keahlian: Reproduksi Ternak, Pengembangan pedesaan melalui Pertanian terintegrasi

 

Indonesia merupakan negara dengan potensi pertanian yang sangat tinggi. Keanekaragaman hayati yang sangat luas menjadi salah satu pendorong peningkatan kualitas pertanian di Indonesia sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat, dunia pertanian khususnya di sektor perkebunan, tanaman pangan, dan hortikultura dapat menjadi penyumbang devisa tertinggi non migas di Indonesia. Pengembangan pada sektor hortikultura telah menjadi fokus pemerintah indonesia saat ini. Peningkatan kebutuhan masyarakat akan tanaman hortikultura dirasa akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya populasi penduduk di Indonesia. Dalam era globalisasi lingkungan dewasa ini kita dihadapkan pada suatu dilema antara pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang yang terus meningkat, serta upaya untuk rehabilitasi dan melestarikan sumber daya alam.
Sektor perikanan memiliki peranan strategis dalam pembangunan nasional. Ditinjau dari potensi sumberdaya alam, Indonesia dikenal sebagai negara maritim terbesar di dunia karena memiliki potensi kekayaan sumberdaya perikanan yang relatif besar (Triarso, 2012). Salah satu daerah yang berpotensi di bidang sektor perikanan dan kelautan adalah Propinsi Nusa Tenggara Timur yang dapat menarik investor berinvestasi khususnya di daerah Sumba Timur (Suara Pembaruan, 2018). Kawasan laut pulau Sumba memiliki potensi lestari perikanan atau Maximum Sustainable Yield (MSY) sebesar 66.200 ton/tahun dengan jumlah tangkapan maksimal atau Total Allowable Catch (TAC) sebesar 52.300 ton/tahun (Mongabay, 2018). Saat ini, Potensi perikanan tangkap di Kabupaten Sumba Timur belum digarap secara optimal untuk meningkatan kesejahteraan rakyat. Kondisi ini disebabkan karena sarana dan prasarana produksi perikanan, umumnya masih bersifat tradisional (Bisnis.com, 2016).
Pada sisi lain, peningkatan jumlah penduduk yang relatif cepat memaksa pemerintah mengambil jalan pintas untuk meningkatkan produksi berbagai komoditas pertanian, antara lain dengan pemakaian pupuk dan pestisida kimia. Sistem usaha intensifikasi pertanian semacam ini memang berguna untuk memacu proses mineralisasi atau perombakan bahan organik, akan tetapi konsekuensinya kandungan bahan organik tanah menurun drastis sehingga kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara dan kehidupan biota cenderung terus menurun. Dengan demikian tanah menjadi padat, keras dan peka erosi, yang mengakibatkan pertumbuhan akar tanaman dan kehidupan tanah yang menguntungkan menjadi terganggu. Hal ini sendiri telah berlangsung lama sejak dimulainya revolusi hijau pada sekitar tahun 70-an dan menjadi suatu keterlanjuran yang parah dan menghasilkan akibat seperti sekarang ini, yaitu terjadi kerusakan dan penurunan tingkat kesuburan tanah yang menghawatirkan. Sedangkan mahalnya harga dan kelangkaan pupuk menjadi permasalahan tersendiri yang tak kalah serius dan akhirnya hanya menjadikan petani dan masyarakat sebagai korban yang tak berdaya.
Penggunaan bahan-bahan kimia pada pupuk dan pestisida yang diaplikasikan oleh kebanyakan petani Indonesia dapat menjadi permasalahan tersendiri dalam dunia pertanian. Penggunaan lahan yang terlalu intensif dan penggunaan bahan kimia sebagai pupuk dan pestisida akan berdampak pada penurunan produktivitas lahan. Oleh karenanya, diperlukan adanya solusi agar produksi hortikultura terus meningkat dan produktivitas lahan tidak terjadi penurunan hasil salah satunya dengan penerapan pertanian organik. Penggunaan bahan-bahan organik sebagai pupuk dan pestisida dapat mengurangi tingkat pencemaran lingkungan yang berdampak pada penurunan
produktivitas lahan. Dengan adanya penerapan pertanian organik diharapkan produksi hortikultura di Indonesia dapat terus meningkat kualitas dan kuantitasnya serta dapat menurunkan risiko kerusakan lahan sehingga dapat terus digunakan untuk generasi berikutnya.
Dengan adanya kegiatan Seminar Nasional dengan tema “Peluang dan Tantangan Sektor Pertanian Berkelanjutan dengan harapan mampu memberikan solusi kepada para mahasiswa, khususnya mahasiswa di lingkungan pertanian dalam arti luas untuk membantu pemerintah dalam menghadapi berbagai problematika yang tengah dihadapi.