Unkriswina.ac.id

Switch to desktop Register Login

PKM OLEH PRODI AGRIBISNIS

Pembuatan Pestisida Organik dan Perangkap Warna Kuning
April, Mei dan Juni 2018


Cabai (Capsicum annum L.) adalah salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal tersebut dapat diamati dari jenis masakan khas Indonesia yang umumnya menggunakan cabai sebagai bahan bumbu utamanya, belum lagi berkembangnya berbagai macam olahan cabai yang berupa cabai giling, cabai kering dan bubuk cabai semakin meningkatkan permintaan terhadap cabai itu sendiri sehingga apabila ketersediaan pasokan cabai turun akan menyebabkan terjadi kenaikan harga cabai yang melambung tinggi. Berdasarkan data produktivitas cabai nasional tahun 2009-2010, produktivitas cabai tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 0.29 dibandingkan tahun 2009 yang mengakibatkan kenaikan inflasi pada tahun 2010 sebesar 0.32% (BPS 2012). Penurunan produktivitas cabai disebabkan oleh faktor berikut antara lain anomali iklim, serangan hama dan penyakit, bencana alam di wilayah sentra produksi cabai dan penurunan minat petani untuk menanam cabai (BPS 2012). Penurunan produksi cabai yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit merupakan faktor yang sebenarnya dapat dihindari apabila pengetahuan mengenai penanggulangan serangan hama dan penyakit diketahui dengan baik. Sebab, kerugian berupa kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit dapat mencapai nilai sebesar 80-100% (Girsang 2008).
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh para petani, terutama petani cabai adalah serangan hama, baik berupa nematoda, ulat, lalat buah maupun antraknosa. Serangan hama ini seringkali menggagalkan panen sehingga menyebabkan kerugian yang sangat besar. Petani pada umumnya menggunakan pestisida kimia untuk membasmi hama tersebut karena pestisida kimia banyak dijual di pasaran dan sangat efektif dalam membasmi hama. Mereka tidak mengerti jika akibat yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia, apalagi pada jangka waktu yang lama dan terus-menerus sangat berbahaya. Pestisida kimia ini tidak dapat terurai di alam sehingga residunya akan terakumulasi dalam tanah, selain menempel padatanaman cabai. Jika senyawa ini ikut terkonsumsi bersama tanaman cabai yang kita makan maka akan sangat berbahaya karena sifatnya yang toksik dan dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif seperti kanker. Sementara, pestisida yang terakumulasi dalam tanah dapat menyebabkan resistensi pada hama selain kerusakan tanah itu sendiri.
Alternatif penggunaan pestisida organik yang jauh lebih ramah lingkungan dan tidak beracun merupakan solusi yang lebih baik untuk menggantikan peran pestisida kimia. Jika dibandingkan dengan pestisida kimia, pestisida organik mempunyai beberapa kelebihan. Pertama, lebih ramah terhadap alam, karena sifat material organik mudah terurai menjadi bentuk lain sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas.Kedua, residu pestisida organik tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman untuk dikonsumsi. Ketiga, dilihat dari sisi ekonomi, penggunaan pestisida organik memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Produk pangan non-pestisida harganya lebih baik dibanding produk konvensional. Selain itu, pembuatan pestisida organik bisa dilakukan sendiri olehpetani sehingga menghemat pengeluaran biaya produksi. Keempat, penggunaan pestisida organik yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan resistensi pada hama.
Namun demikian, berdasarkan survey lapangan yang telah dilakukan, terungkap bahwa belum banyak petani yang menyadari bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida kimia dalam jangka waktu yang lama. Mereka juga belum mengetahui adanya pestisida organik yang jauh lebih murah dan tidak berbahaya dimana proses pembuatannya sangat mudah. Dengan demikian, maka perlu dilakukan sosialisasi dan pemberian ketrampilan pembuatan pestisida organik yang ramah lingkungan untuk mengatasi serangan hama pada tanaman cabai. Melalui pelatihan ini, diharapkan nilai jual tanaman cabai dapat meningkat sehingga dapat meningkatkan taraf hidup petani, pencemaran lingkungan berkurang dan timbulnya penyakit-penyakit degeneratif yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia dapat dicegah.Selain itu, salah satu teknik pengendalian hama pada tanaman cabai adalah penggunaan alat perangkap warakuning. Beberapa laporan penelitian mengemukakan bahwa penggunaan perangkap kuning dapat menekan populasi hama dengan sangat baik. Menurut Nurdin et al. (1999) perangkap kuning dari bahan plastik yang diolesi dengan pelumas lebih efektif mengendalikan lalat korok daun pada tanaman kentang dibanding jenis lainnya. Populasi lalat dewasa yang terperangkap oleh perangkap plastik kuning dalam seminggu sebanyak 23.4 ekor, sedangkan jenis perangkap kuning lainnya lebih rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh warna kuning pada plastik lebih kontras dan mengkilap sehingga lalat lebih tertarik dibandingkan jenis perangkap kuning lainnya, disamping itu pula plastik kuning tersebut lebih tahan terhadap hujan dan cahaya matahari, sehingga mengakibatkan lebih melekat, lebih awet atau lebih lama.