Unkriswina.ac.id

Switch to desktop Register Login

Ine (Cerpen Eka Wangge)

Di telapak tangannya ada kasih. Di bekas telapak tangan kekasihnya ada benci. Mereka bertukar hati semudah bertukar liur.

*

Ia menggenggam sampul undangan berdebu yang bersembunyi di kolong lemari pakaian dengan telapak kanan. Debu menempel pada telapaknya yang liat. Menyapu, mencuci, memasak, melayani suami, mengurus anak. Menyapu lagi, mencuci lagi, memasak lagi, melayani suami lagi, mengurus anak lagi. Siklus berulang hari demi hari mengubah telapaknya yang lembut menjadi liat juga kasar. Beberapa berubah. Ia masih menyapu, masih mengepel, masih mencuci, masih memasak. Ia tidak lagi melayani suaminya yang kabur dengan perempuan lain. Berpuluh tahun kemudian, ia tidak lagi mengurusi anaknya yang pergi mengikuti kata hati.

Nama anaknya, Ine, Mama,Ibu terukir diatas tinta keemasan, melahirkan kesan baru. Bukan usang, lusuh dan terlupakan. Ah, berapa lama undangan ditangannya bersembunyi di kolong lemari? Setahun, dua tahun kah ? Lima tahun! Ia menghitung sejak hari itu.

Telapaknya kini menggigil hebat. Dingin membebat jantung, juga hatinya, mengalirkan beku hingga sekujur tubuh. Ada sepersekian detik waktu yang bisa ia gunakan untuk berteriak minta tolong. Namun ia memilih ambruk. Sendirian.

**

Ada raut kekasihnya pada liat telapak, ungu yang menggurat kulit, napas yang tersengal menahan sakit. Tampan. Ketampanan yang menyembunyikan ulat dan kutu busuk pada sekujur pori-pori. Atau barangkali ular beludak pada rongga kepala, diantara belahan otak kanan dan otak kiri. Hingga saat ingin berkata cinta, kepalan tangannyalah yang meninggalkan lebam ungu sementara susunan geliginya bergemeletuk dan bibirnya gemetar. Mungkin juga lidahnya mati rasa.

Menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, lalu ia menunggu kapan kekasihnya akan pulang sebentar untuk pergi lagi.

Benar-benar sebentar, tanpa berkata apa-apa sebelum pergi. Jika ia berkicau soal rindu yang membuncah. Kekasihnya yang tampan bahkan enggan menoleh sebentar. Jika ia terus bercakap, tangan kekasihnya akan membekap bibir tipis, meninggalkan jejak membiru sebelum berlalu. Ia enggan menghitung waktu, sebab yang ia tahu kekasihnya akan pergi lama. Lebih lama dari jumlah jemarinya yang dipakai untuk menghitung hari.

***

 “ menikah itu tak semudah membalik telapak tangan “

 “ semua orang tahu itu, Mama “

 “ apalagi menikahi pemuda seperti dia “

 “ Jangan melihat masa lalunya. Dia sudah berjanji untuk berubah”

 “ Sekali pemabuk dan akrab dengan kekerasan,selamanya akan menjadi pemabuk “

 “ ah ya… apa akan seperti Bapak ? “

Seorang perempuan paruh baya dengan bibir gemetar dan air mata nyaris menggenang menghindari tatapannya yang menantang. Dia ingat hari itu dengan baik, semudah dia mengingat berapa kali tangan kekasihnya mendarat pada setiap millimeter tubuhnya,hari ini.

****

Mengapa perempuan selalu berulah ? Pikiran itu telah lama menari-nari dalam benaknya. Mengapa ibunya,saudari perempuannya bahkan kini istrinya, wanita yang telah dinikahinya selama lima tahun selalu berkata ini itu, seolah mereka adalah pemegang kendali kehidupan. Jangan merokok, jangan minum-minum, boleh minum-minum tetapi jangan mabuk, omong kosong yang ia dengar membuat matanya berkunang-kunang hingga ia tertidur dengan mimpi memeluk seorang bayi malaikat dalam dekapannya. Hangat.

Ia melangkah gontai dari sisi tempat tidur menuju lemari kayu yang setengah terbuka. Diraihnya beberapa lembar pakaian lalu dijejalkan begitu saja pada kantong plastik yang sebelumnya dipakai untuk membungkus pakaian kotor.

“ aku pergi “

Ia melihat senyuman maklum pada bibir tipis istrinya. Dan bayi malaikat itu tak pernah ada dalam dekapan mereka. Dingin.

*****

Kekasihnya akan menemui perempuan itu yang sudah berbulan-bulan ia kenal lewat angin yang menyasar disela pendengarannya. Pergunjingan ini tak akan usai. Tentu saja ia sudah sangat mengenal lingkungannya. Apa-apa yang dianggap tidak wajar akan selalu menjadi perbincangan selama berminggu kemudian.

Rupa wanita itu sudah dikenalnya. Lebih cantik. Wanita tulen. Bisa menghasilkan kehidupan dari liang dibawah perutnya. Sesuatu yang tak akan pernah bisa ia berikan. Sebuah bentuk kehidupan baru, bukan sekedar memelihara kehidupan kekasihnya dengan tangannya.

Ia menangis. Sesungguhnya ia bosan menangis dan ingin pergi ketempat dimana tangisan akan bertukar dengan tawa.

******

Seperti suaminya dulu pergi,suami puterinya kini pergi, lalu takdir membuat mereka menjadi senasib. Ia melayang dalam kesadaran, bermain bersama pelangi sembari sesekali teringat puterinya. Ine. Ibu. Mama. Apakah malammu kini dihiasi tangisan ganti lagu nina bobo ?

Sekelilingnya perlahan melenyap berkabut. Ia melayang ringan. Ia akan menemui puterinya.

*******

Seorang bocah tampan yang baru belajar berjalan nampak sempoyongan berlari kea rah sang ayah.

“ Bagus Bimo. Anak pintar ! “

Sang ayah memuji sembari mengecup pipi yang merona kemerahan, sementara si ibu sibuk menonton tayangan opera sabun dari televisi 14 inch sembari mengipas – ngipas tubuhnya dengan Koran lusuh. Cuaca begitu panas hari ini. Ia menoleh kearah ayah dari anaknya dan tersenyum kecil menyadari betapa miripnya ayah beranak itu. diam-diam ia menyimpan gelisah. Takut potret keluarga kecil bahagia yang siang itu terekam dalam kepalanya tak akan bertahan lama. Barangkali besok ayah dari anaknya akan pulang ke pangkuan isterinya, ia tak tahu pasti. Sama tak pastinya dengan perempuan itu, isterinya, ia menduga dalam benak.

********

Kekasihnya pulang saat ia telah enggan menangis, keesokan harinya. Dengan wajah masam dan tanpa mengucap salam, kekasihnya melangkah menuju kamar. Ia akan tidur. Begitu pikirnya. Dan bermimpi tentang perempuan itu. ah, sungguh ia rindu ingin bermimpi lagi bersama kekasihnya. Seperti saat lakilaki itu berjanji akan memberikan segala yang mungkin ia pinta.

Aku ingin bermimpi bersamamu.

Hanya aku.

Ia berbaring di sisi kekasihnya yang sedang lelap.

Ijinkan aku memasuki mimpimu.

Hanya aku

 

Kekasihnya mengerang. Ia tersenyum senang. Kekasihnya telah masuk kedalam dunia mimpi mereka. Ia menggenggam erat pisau dapur ditangannya. Cukup dengan beberapa kali hujaman di jantungnya, mereka akan bersatu. Dalam hitungan ketiga ia menjerit, Mama!

Ibunya membukakan pintu rumah. Wajahnya masih sama seperti hari itu, lima tahun silam, ia membilang dalam hati.

 

“ Ine, kau sudah pulang ! “

 

Ibunya memekik gembira. Tidak! Tidak boleh begini, ia mengumpat. Ini bukan mimpinya. Ia berlari ringan.

Dalam kerinduan, ia memagut bibir kekasihnya diantara indahnya pelangi dan cemerlangnya langit biru. Ia tak ingin kehilangan kekasihnya lagi. Sekarang atau nanti. Ini mimpinya.