Unkriswina.ac.id

Switch to desktop Register Login

Sekilas Tentang Peternakan Di Kabupaten Sumba Timur

Sekilas Tentang Peternakan Di Kabupaten Sumba Timur

    Wilayah Kabupaten Sumba Timur memiliki keunikan meskipun diliputi oleh kegersangan dengan curah hujan yang kurang, akan tetapi sungai-sungai maupun sumber-sumber mata air cukup tersebar pada setiap wilayah dan tidak kering pada musim kemarau. Banyaknya air bawah tanah di Kabupaten Sumba Timur dipertegas dengan informasi penelitian tim geologi Bandung bahwa aliran air tanah secara geologis mengalir dari barat menuju timur dan seakan-akan pulau Sumba letaknya miring ke bagian timur. Dari kutipan di atas, maka prospek pengembangan sektor pertanian di wilayah Kabupaten Sumba Timur sangat menjanjikan khususnya sub sektor peternakan. Hal ini juga ditunjang dengan jenis vegetasi yang menonjol yaitu padang savana seluas 477.157 Ha atau 68,16 % dari luas wilayah dan merupakan sumber bahan pakan ternak. Profesor Hoekstra dalam penelitiannya menyebutkan bahwa di Sumba Timur terdapat 33 jenis rumput dan 17 jenis diantaranya mengandung gizi tinggi. Sejak jaman Pemerintah Hindia-Belanda, pulau Sumba telah dipilih untuk dijadikan pusat pembibitan sapi Ongole murni yang didatangkan dari India pada tahun 1914 (inilah cikal bakal sapi ongole sumba) dan sampai dengan saat ini, pulau Sumba khususnya Sumba Timur masih dikenal sebagai daerah penghasil sapi bibit ongole murni bagi daerah-daerah lainnya di Indonesia. Selain potensial sebagai pusat pengembangan ternak, Sumba Timur juga sangat potensial untuk dijadikan lahan pengembangan tanaman pangan, perkebunan dan kehutanan.

    Pengelolaan sub sektor peternakan yang selama ini menjadi leading sektor pembangunan di Kabupaten Sumba Timur, pada tahun 2000-2004 dikemas dalam visi “mewujudkan peternakan  yang  maju  (modern), efisien  dan  berkelanjutan“ demi terwujudnya masyarakat yang sehat dan produktif melalui pembangunan peternakan yang tangguh dengan fokus kegiatan pada komoditas unggulan (sapi sumba ongole) dan reorientasi sub sektor peternakan dari corak tradisional menuju peternakan maju (intensif). Berdasarkan visi tersebut berbagai program dan kegiatan dirumuskan dan dilaksanakan secara sinergis, sistematis dan berkesinambungan dengan sumber dana berasal dari APBD dan APBN guna memamfaatkan potensi alam yang ada dalam mendukung pengembangan sub sektor peternakan.

Adapun jumlah populasi ternak besar di Kabupaten Sumba Timur yakni sebesar 96.974 ekor yang tediri dari ternak sapi sebesar 33.780 ekor, kuda 33.119 ekor dan kerbau sebesar 30.075 ekor dan ternak kecil sebesar 77.990 ekor. Kecamatan Pahunga Lodu merupakan kecamatan yang terbesar populasi ternaknya.

    Permintaan ternak potong dan kuda beban ke luar daerah atau antar pulau pada umumnya cukup tinggi, namun ketersediaan ternak baik kuantitas maupun kualitas masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena pola pemeliharaan ternak masih dalam bentuk inbreeding, kekeringan yang disebabkan oleh kemarau panjang, intervensi Cromolena Ordorata dan kebakaran padang rumput selama musim kemarau. Khusus untuk Cromolena Ordorata (rumput belalang) merupakan tanaman pengganggu  yang  sangat membatasi ketersediaan pakan di padang penggembalaan karena penyebarannya telah merampas sebagian potensi padang penggembalaan dan lahan pertanian.