LITURGI IBADAH SENIN UNIVERSITAS KRISTEN WIRA WACANA SUMBA SENIN, 08 JUNI 2026. “KRISIS SEBAGAI MOMENTUM TRANSFORMASI: MEMBANGUN KAMPUS YANG AMAN, ADIL, DAN BERMARTABAT”

WhatsApp
Facebook
Twitter
Telegram

PERSIAPAN IBADAH

  • Pelayan mempersiapkan diri dan berdoa bersama.
  • Civitas akademika mengambil saat teduh dan mempersiapkan diri untuk beribadah kepada Tuhan.

PANGGILAN BERIBADAH

(diiringi dengan instrumen musik rohani yang lembut)

P     :   Saudara-saudari yang terkasih, hari-hari yang telah kita lalui bukanlah hari-hari yang mudah. Ada begitu banyak peristiwa yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan kita. Ada berita yang mengejutkan, kenyataan yang menyakitkan, dan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergumul di dalam hati. Di antara kita mungkin ada yang terluka dan sedang berjuang memulihkan diri dari pengalaman yang menyakitkan. Ada yang merasa kecewa karena kepercayaan yang selama ini dibangun ternyata terguncang. Ada yang marah karena melihat ketidakadilan. Ada yang takut karena merasa ruang yang seharusnya aman ternyata tidak selalu memberikan rasa aman. Ada yang bingung dan bertanya-tanya: mengapa semua ini bisa terjadi? Di mana letak kesalahan kita? Apa yang harus kita lakukan ke depan? Mungkin ada pula yang sedang memikul beban rasa bersalah, penyesalan, atau pergumulan batin yang tidak diketahui orang lain. Ada yang merasa tersesat dan kehilangan arah. Ada yang lelah menghadapi berbagai penilaian, tuduhan, dan tekanan. Ada yang diam karena tidak tahu harus berkata apa. Ada yang menangis dalam hati karena merasa tidak didengar. Di tengah semua kenyataan itu, kita tidak datang ke hadapan Tuhan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kita tidak datang dengan topeng kesalehan yang menutupi luka dan kegelisahan kita. Kita datang sebagaimana adanya: dengan segala luka, pertanyaan, ketakutan, kemarahan, keprihatinan, harapan, dan kerinduan akan pemulihan. Hari ini Tuhan tidak memanggil kita untuk saling menyalahkan. Tuhan juga tidak memanggil kita untuk menutup mata terhadap kenyataan. Sebaliknya, Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya, membawa seluruh pergumulan kita, dan membuka hati bagi karya-Nya yang memulihkan serta memperbarui. Oleh karena itu, marilah kita meletakkan segala beban, kegelisahan, amarah, dan keprihatinan kita di hadapan Tuhan. Marilah kita membuka diri untuk mendengar suara-Nya yang meneguhkan, mengoreksi, menghibur, dan menuntun kita menuju jalan yang benar. Kiranya dalam ibadah ini kita tidak hanya menemukan penghiburan, tetapi juga keberanian untuk belajar dari setiap krisis, hikmat untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, dan komitmen untuk bersama-sama membangun komunitas yang lebih aman, lebih adil, dan lebih bermartabat. Mari kita memasuki ibadah ini dengan hati yang terbuka, dengan kerendahan hati di hadapan Allah, dan dengan keyakinan bahwa kasih karunia Tuhan sanggup mengubah luka menjadi pembelajaran, kegelisahan menjadi pengharapan, dan krisis menjadi momentum pembaruan.

(Jemaat berdiri)

ROH-MU YANG HIDUP

Roh-Mu yang hidup penuhiku
Mengalir dalamku
Jiwaku tenang bersama-Mu
Dalam naungan-Mu

            Ref.:

Ku buka hati ‘tuk jamahan-Mu
Berserah penuh di hadirat-Mu
Kau ambil alih s’luruh hidupku
Di altar-Mu menyembah-Mu

Roh-Mu yang kudus pulihkanku
Engkaulah damaiku
Ku hidup oleh anug’rah-Mu
Yang menyertaiku

Ref.:

VOTUM DAN SALAM

P      :   Ibadah Keluarga Besar Civitas Akademika Unkriswina saat ini ditahbiskan dalam pengakuan bahwa pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang memelihara kesetiaan-Nya sampai selama-lamanya, dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Kasih karunia dari Allah Tritunggal menyertai kita sekalian.

P&J:   Amin.

(Jemaat duduk)

LITANI KRISIS SEBAGAI MOMENTUM TRANSFORMASI

(diiringi dengan instrumen musik rohani yang lembut)

P     :   Ya Allah yang memelihara kehidupan, Allah yang merawat kehidupan, Allah yang membela mereka yang lemah, Allah yang menentang segala bentuk kekerasan, Allah yang menghendaki keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera; di hadapan-Mu kami datang dengan hati yang tertunduk. Kami mengaku bahwa hidup kami sering kali jauh dari teladan kasih yang Engkau tunjukkan. Kami jauh dari jalan kebenaran yang Engkau ajarkan. Kami jauh dari panggilan untuk menjadi pembawa kehidupan bagi sesama. Engkau menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Mu, tetapi kami sering gagal menghormati martabat yang Engkau anugerahkan kepada setiap orang. Kami hidup di tengah dunia yang haus akan kasih dan keadilan, tetapi sering kali kami lebih memilih kepentingan diri sendiri daripada kepentingan bersama. Kami lebih mudah menyalahkan daripada memperbaiki diri. Kami lebih cepat berbicara daripada mendengarkan jeritan mereka yang terluka. Ya Tuhan, kami mengaku bahwa pendidikan yang tinggi, pengetahuan yang luas, kecerdasan yang kami banggakan, dan berbagai pencapaian yang kami miliki ternyata tidak selalu membuat kami menjadi manusia yang lebih baik. Kami mengetahui apa yang benar, tetapi tidak selalu melakukannya. Kami memahami nilai-nilai kemanusiaan, tetapi tidak selalu menghidupinya. Kami berbicara tentang etika, tetapi sering gagal mempraktikkannya. Kami mengajarkan kebaikan, tetapi terkadang tidak menjadikannya bagian dari karakter kami. Sering kali kami membiarkan kesombongan menguasai hati kami. Kami merasa memiliki kuasa atas kehidupan orang lain. Tanpa kami sadari, kejahatan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan mencolok. Ia hadir dalam sikap meremehkan sesama, dalam kata-kata yang melukai, dalam tindakan yang mengendalikan orang lain, dalam tindakan yang mengabaikan penderitaan orang lain, dalam keputusan yang tidak adil, dan dalam pembiaran terhadap hal-hal yang seharusnya kami lawan. Ampunilah kami, ya Tuhan. Basuhlah hati kami dari kesombongan. Bersihkanlah pikiran kami dari segala niat yang tidak benar. Ajarlah kami kembali untuk belajar berbuat baik sebagaimana yang Engkau kehendaki. Ya Tuhan, kasihanilah kami dan ampunilah dosa kami.

J      :   ( Menyanyi KJ 467:1 Tuhanku, Bila Hati Kawanku )

Tuhanku, bila hati kawanku terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku, ampunilah.

P     :   Ya Tuhan yang Mahakudus, kami mengaku bahwa sering kali kami tidak mau dipimpin oleh Roh Kudus. Kami mengetahui yang baik, tetapi kami memilih melakukan yang salah. Sebagai pribadi maupun komunitas, kami tidak selalu menjadi pembawa kehidupan. Melalui perkataan, sikap, keputusan, maupun tindakan kami, kami pernah melukai sesama. Kami mengaku bahwa keinginan-keinginan yang tidak terkendali, nafsu yang tidak ditaklukkan, penyalahgunaan relasi, penyalahgunaan kepercayaan, penyalahgunaan kuasa, bahkan penyalahgunaan pengetahuan dan kedudukan telah menghadirkan luka dalam kehidupan banyak orang. Terkadang kami menggunakan kecerdasan tanpa kebijaksanaan. Kami menggunakan jabatan tanpa kerendahan hati. Kami menggunakan kewenangan tanpa tanggung jawab. Kami menggunakan pendidikan tanpa hati nurani; dan ketika hal itu terjadi, kehidupan yang seharusnya dirawat justru dirusak. Martabat yang seharusnya dihormati justru dinodai. Kepercayaan yang seharusnya dijaga justru dikhianati. Ya Tuhan, hari ini kami teringat kepada semua korban kekerasan dalam berbagai bentuknya. Kami teringat mereka yang tubuhnya terluka. Kami teringat mereka yang jiwanya terluka. Kami teringat mereka yang hidup dalam ketakutan. Kami teringat mereka yang mengalami tekanan psikologis. Kami teringat mereka yang kehilangan rasa percaya kepada sesama. Kami teringat mereka yang harus berjuang memulihkan diri dari pengalaman yang tidak pernah mereka inginkan. Kami teringat perempuan-perempuan yang hidup dalam ancaman. Kami teringat anak-anak yang hak-haknya dirampas. Kami teringat mereka yang suaranya diabaikan. Kami teringat mereka yang dipaksa memikul beban yang bukan kesalahan mereka. Betapa sering ruang aman menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Betapa sering korban harus berjuang sendirian. Betapa sering mereka takut untuk berbicara. Betapa sering mereka khawatir tidak akan dipercaya. Betapa sering luka mereka dianggap tidak penting. Ya Tuhan, dengarlah jeritan mereka. Dengarlah tangisan mereka. Dengarlah doa-doa yang mungkin tidak sanggup mereka ucapkan. Kami tidak ingin menutup mata terhadap penderitaan mereka. Kami tidak ingin mengalihkan perhatian dari luka mereka. Kami tidak ingin melupakan mereka demi kenyamanan kami sendiri. Ajarlah kami berjalan bersama mereka. Ajarlah kami mendengarkan tanpa menghakimi. Ajarlah kami merangkul tanpa mencurigai. Ajarlah kami menghadirkan pemulihan tanpa menambah luka; dan ketika kami menghadapi krisis ini, tolonglah kami untuk tetap berdiri bersama mereka yang terluka, agar tidak seorang pun harus berjalan sendirian melewati masa yang sulit ini. Ya Tuhan, kasihanilah kami dan ampunilah dosa kami.

J      :   ( Menyanyi KJ 467:2 Tuhanku, Bila Hati Kawanku )

Jikalau tuturku tak semena dan aku tolak orang berkesah,
pikiran dan tuturku bercela, ampunilah.

P     :   Ya Tuhan, hari ini kami menyadari bahwa apa yang terjadi di sekitar kami tidak hadir begitu saja. Banyak kenyataan yang kami hadapi hari ini adalah buah dari pilihan-pilihan yang diambil kemarin. Buah dari keputusan-keputusan yang pernah dibuat. Buah dari sikap-sikap yang pernah dipelihara. Buah dari keberanian yang tidak kami tunjukkan ketika seharusnya kami bertindak. Kami mengaku bahwa terkadang kami memilih diam ketika melihat ketidakadilan. Kami diam ketika mendengar jeritan yang membutuhkan pertolongan. Kami diam ketika melihat perilaku yang tidak semestinya. Kami diam ketika kebenaran membutuhkan suara. Kami diam ketika keberanian diperlukan. Sering kali rasa takut kami lebih besar daripada komitmen kami kepada keadilan. Kami takut kehilangan posisi. Kami takut kehilangan kenyamanan. Kami takut kehilangan penerimaan. Kami takut menghadapi mereka yang memiliki kuasa. Oleh karena itu, kami membiarkan hal-hal yang salah terus berlangsung. Kami menunda tindakan yang seharusnya dilakukan. Kami gagal menjadi sahabat bagi mereka yang membutuhkan perlindungan. Ya Tuhan, kami mengaku bahwa terkadang keputusan-keputusan yang kami ambil tidak sepenuhnya berpihak kepada kebenaran. Tidak sepenuhnya berpihak kepada keadilan. Tidak sepenuhnya berpihak kepada mereka yang membutuhkan perlindungan. Akibatnya, ketakutan bertumbuh. Kepercayaan memudar. Luka semakin dalam dan korban terus beertambah. Namun hari ini, melalui firman-Mu, Engkau memanggil kami: “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan…” Oleh karena itu kami memohon: tolonglah kami menjadi penjaga kehidupan, bukan perusaknya. Tolonglah kami menjadi pembela martabat manusia, bukan pengabainya. Tolonglah kami menjadi pembangun damai, bukan penyebab luka. Jauhkanlah kami dari segala bentuk kejahatan, sekecil apa pun bentuknya. Jangan biarkan kecerdasan kami menjadi alat untuk memanipulasi. Jangan biarkan pendidikan kami menjadi sarana untuk menindas. Jangan biarkan jabatan kami menjadi alat untuk menguasai. Jangan biarkan pengetahuan kami dipakai untuk membenarkan tindakan yang salah. Sebaliknya, biarlah segala karunia yang Engkau percayakan kepada kami dipakai untuk menghadirkan kebaikan, keadilan, dan damai sejahtera. Ajarlah kami merawat kehidupan, bukan merusaknya. Ajarlah kami melindungi, bukan melukai. Ajarlah kami menghormati, bukan merendahkan. Ajarlah kami mengusahakan kebaikan, bukan membiarkan kejahatan bertumbuh. Dan ketika Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami hari ini, jadikanlah krisis yang kami alami sebagai momentum pembaruan. Perbaruilah hati kami. Perbaruilah relasi kami. Perbaruilah budaya kami. Perbaruilah lembaga kami. Biarlah kampus ini sungguh menjadi tempat yang aman bagi yang rentan, adil bagi yang mencari kebenaran, dan bermartabat bagi setiap orang yang hidup dan belajar di dalamnya. Dalam belas kasih-Mu yang besar, dengarkanlah pengakuan dosa kami. Dalam nama Yesus Kristus, Sang Pembawa Keadilan dan Damai Sejahtera, kami berdoa. Amin.

KU HIDUP BAGI-MU

Yesus kau kebenaran
Yang menyelamatkanku
Kau memberikanku hidup
Dan pengharapan

Ku ikut kehendak-Mu
Ku perlu anug’rah-Mu
Ku nyatakan janjiku kepada-Mu

Kalau ku hidup, ku hidup bagi-Mu
Hatiku tetap, tetap menyembah-Mu
Dunia tak bisa menjauhkanku
Dari kasih-Mu

S’lama ku hidup, ku hidup bagi-Mu
Mataku tetap, tetap memandang-Mu
Dunia tak bisa menjauhkanku
Dari kasih-Mu

PEMBERITAAN FIRMAN TUHAN

  • Doa Epiklese
  • Pembacaan Alkitab: Yesaya 1:15-20

(diakhiri dengan mengatakan: Demikianlah Firman Tuhan. Diberkatilah setiap orang yang membaca, merenungkan, dan memelihara Firman Tuhan dalam hidupnya. Haleluya.”)

  • J      : ( Menyanyi “Haleluya ) Haleluya.. Haleluya.. Haleluya..
  • Khotbah

DOA SYUKUR & SYAFAAT

PERSEMBAHAN

P     :  Saudara-saudari yang terkasih, dalam segala yang kita miliki berasal dari Tuhan dan oleh kasih karunia-Nya kita terus dipelihara hingga hari ini. Oleh karena itu, sebagai ungkapan syukur atas kebaikan-Nya, marilah kita mempersembahkan persembahan kita kepada Tuhan. Kiranya persembahan yang kita berikan tidak hanya menjadi tanda syukur, tetapi juga wujud komitmen untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan kebaikan bagi sesama.Marilah kita membawa persembahan kita kepada Tuhan.

DIIRINGI PUJIAN OLEH SDRI. KEYSIA & SDRI. LEVINA

PENGUTUSAN DAN BERKAT

(Jemaat berdiri)

P      : Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, hari ini kita telah mendengar panggilan Tuhan melalui Firman-Nya. Kita bahwa setiap krisis dapat menjadi kesempatan untuk belajar, berbenah, dan bertumbuh. Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup dalam ketakutan, kemarahan, atau saling menyalahkan, tetapi untuk menjadi pribadi-pribadi yang menghadirkan kebaikan, memperjuangkan keadilan, dan merawat kehidupan. Oleh karena itu, marilah kita meninggalkan tempat ini dengan hati yang diperbarui, dengan komitmen untuk menjadi pembawa damai, penjaga martabat sesama, dan pelaku-pelaku kebaikan di mana pun kita berada. Biarlah apa yang telah kita dengar hari ini tidak berhenti sebagai refleksi, tetapi menjadi tindakan nyata dalam kehidupan kita bersama, sehingga kampus dan lingkungan kita semakin menjadi ruang yang aman, adil, dan bermartabat bagi semua. Untuk itu, mari arahkanlah hati kita dan kita mohon berkat Tuhan. “Kiranya Allah yang mengasihi kehidupan memampukan kita untuk merawat kehidupan. Kiranya Kristus yang menghadirkan keadilan memampukan kita untuk memperjuangkan kebenaran. Kiranya Roh Kudus memimpin kita untuk belajar berbuat baik, menjauhi segala bentuk kejahatan, dan membangun komunitas yang aman, adil, dan bermartabat mulai hari ini sampai selama-lamanya.”

J      :   ( Menyanyi “Amin” ) Amin.. Amin.. Amin..

KJ 425:1,3 ”BERKUMANDANG SUARA DARI SEBERANG”

Berkumandang suara dari seberang,

“Kirimlah cah’yamu!”
Banyak jiwa dalam dosa mengerang,
“Kirimlah cah’yamu!”

Ref.:

Kirimlah pelita Injili
menyentak yang terlelap.
Kirimlah pelita Injili
menyentak yang terlelap.

Jangan kita tinggal diam mendengar:
“Kirimlah cah’yamu!”
Injil Tuhan haruslah kita sebar,
“Kirimlah cah’yamu!”

Ref.:

TIM PELAYANAN KAMPUS MENGUCAPKAN,
“SELAMAT MEWARTAKAN KEADILAN DAN MENGHADIRKAN DAMAI,
ALLAH YANG BAIK MEMAMPUKAN KITA!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *