Kuliah Tamu Perempuan, Dapur, dan Kekuasaan: Memahami Transformasi Gender di Pedesaan Indonesia oleh Linda Susilowati, Ph.D.

WhatsApp
Facebook
Twitter
Telegram

Waingapu, 22 April 2026 – Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Lingkungan sosial memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap tatanan ekonomi masyarakat, terutama jika ditarik ke dalam diskursus relasi gender di wilayah pedesaan. Hal ini menjadi topik utama dalam Kuliah Tamu bertajuk “Transformasi Gender, Soroti Peran Perempuan di Pedesaan” yang menghadirkan Ibu Linda Susilowati, Ph.D. Dosen Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga sebagai narasumber utama.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Senat Mahasiswa Universitas Kristen Wira Wacana Sumba dan dihadiri oleh pimpinan universitas, pimpinan fakultas, dosen dan mahasiswa. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor 3 Bapak Elfis Umbu Katongu Retang, S.P., M.Agb, serta dipandu oleh Ibu Desy Asnat Sitaniapessy, S.Si-Teol., M.Si. selaku moderator.

Ketimpangan Struktural dan Fenomena “Time Poverty”

Dalam pemaparannya, Ibu Linda Susilowati menyoroti data global Indonesia yang menunjukkan adanya jurang kesempatan antara laki-laki dan perempuan. Beliau menjelaskan bahwa laki-laki memiliki fleksibilitas untuk merantau demi memperbaiki ekonomi, sementara perempuan seringkali tertahan oleh beban moral dan tanggung jawab domestik, seperti merawat orang tua di hari tua.

“Pembagian pekerjaan domestik masih menjadi beban tunggal bagi perempuan. Mulai dari mengawasi tumbuh kembang anak hingga urusan dapur, semuanya dianggap sebagai ‘kodrat’, padahal ini adalah peran yang seharusnya bisa dibagi,” ujar Ibu Linda.

Berdasarkan data dari LPSK, banyak pekerjaan perempuan yang memiliki nilai ekonomi tinggi justru tidak dibayar karena dianggap sebagai kewajiban alami. Hal ini memicu fenomena time poverty (kemiskinan waktu), di mana perempuan menanggung beban kerja lebih banyak namun memiliki waktu yang sangat sedikit untuk pengembangan diri atau istirahat.

Realita Lokal: Ekonomi Ritual vs Pendidikan

Salah satu poin menarik yang dibahas adalah dinamika sosial di Sumba. Ibu Linda menyoroti konsep ekonomi ritual yang terkadang berbenturan dengan prioritas masa depan. Di beberapa wilayah, masyarakat rela mengeluarkan biaya hingga ratusan juta rupiah untuk kegiatan ritual, namun masih menunjukkan keraguan (pikir-pikir) saat harus mengeluarkan biaya untuk menyekolahkan anak.

Beliau juga memperkenalkan metafora “Dapur” sebagai alat analisis sosial. Menurutnya, dapur di pedesaan Jawa maupun Sumba adalah titik masuk yang paling jujur untuk memahami relasi kuasa dalam sebuah keluarga. Siapa yang memasak dan untuk siapa masakan itu dibuat mencerminkan siapa yang memegang kendali atas struktur rumah tangga tersebut.

Sebuah Kesalahan Sistem, Bukan Individu

Menutup sesi materinya, Ibu Linda menekankan bahwa ketimpangan gender yang terjadi saat ini bukanlah kesalahan individu yang harus disesali secara pribadi, melainkan sebuah kegagalan sistemik dan struktural yang bahkan diakui oleh negara.

Oleh karena itu, beliau mendorong pentingnya penelitian lokal. Beliau berargumen bahwa pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh dari realita masyarakat lokal selalu jauh lebih penting dan akurat dibandingkan teori-teori besar yang datang dari luar namun tidak menapak pada realita di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *